Mataram – Kabar pegawai negeri sipil (PNS) kejaksaan berinisial SZ (52) bikin heboh setelah dilaporkan telah menikah 7 kali. SZ telah diproses di internal kejaksaan.

SZ bekerja sebagai PNS bagian tata usaha di Kejaksaan Negeri (Kejari) Praya, Lombok Tengah. Pemeriksaan SZ telah selesai.

SZ terancam sanksi ringan hingga berat. Ancaman pemecatan harus dihadapi SZ.

“Kita nggak bisa memberikan dulu keterangan karena menunggu putusan pimpinan. Memang pelanggaran tiga macam, ringan, sedang, dan berat. Yang berat itu dipecat, ringan bisa penurunan pangkat,” kata Kasi Penkum Kejati NTB Dedi Irawan kepada detikcom, Kamis (11/9/2021).

Setelah pemeriksaan SZ selesai, kasus tersebut sedang menunggu disposisi pimpinan.

Pemeriksaan sudah berjalan 7 hari. Nantinya, jika ada bukti pelanggaran disiplin, kasus ini naik ke tahap inspeksi kasus. Jika terbukti melanggar, SZ akan disanksi.

“Sudah selesai pemeriksaan atau klarifikasi, sudah dibuatkan laporan dan sudah disimpulkan oleh pemeriksa. Sekarang tahap sedang disampaikan ke pimpinan bagaimana disposisi pimpinan, kita masih tunggu,” ungkap dia.

“Tahap klarifikasi memang sudah selesai, tinggal menunggu disposisi pimpinan apakah ditingkatkan pada inspeksi kasus atau tidak dengan bukti bukti awal yang sudah ada,” jelas Dedi.

Pihak Kejati NTB juga buka suara soal desakan melaporkan kasus tersebut ke polisi. Kejati NTB menyatakan pihaknya tidak memiliki kewajiban pada ranah tersebut.

“Tidak ada kewajiban kita melaporkan ke polisi. Yang bisa melapor itu kan korban. Kalau kita tidak ada kewajiban, kita hanya bisa memeriksa laporan dari korban terkait pelanggaran disiplin sebagai PNS,” tuturnya.

Duduk Perkara Kasus

Kasus ini terkuak setelah istri ke-6 melaporkan SZ. Dari 7 istrinya itu, 3 orang memiliki akta nikah atau melakukan pernikahan secara sah, sementara 4 lainnya hanya berstatus nikah siri.

“Atas pernikahan sampai 7 kali tersebut, diduga SZ telah melakukan pelanggaran etik selaku pekerjaannya adalah pegawai negeri sipil di kejaksaan dan pelanggaran hukum berupa pemalsuan surat, pernikahan terhalang, penelantaran, dan/atau kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ungkap anggota Koalisi Perlindungan Perempuan dan Anak NTB, Yan Mangandar Putra, dalam keterangannya, Selasa (31/8).

SZ dilaporkan pada Kamis (26/8) lalu dengan kategori pelanggaran etik dan pemalsuan dokumen. SZ dinilai melanggar undang-undang perlindungan perempuan dan anak.

Runutan SZ Nikahi 7 Wanita

PNS SZ pertama kali menikah dengan istrinya berinisial W pada 1990 dan dikaruniai 4 anak. Pada tahun yang sama, SZ juga menikah dengan tiga orang perempuan lainnya, yakni BC, PZ, dan PL.

“Kemudian pada 2004, SZ menceraikan istri pertamanya W, berdasarkan aturan agama tetapi tanpa melalui proses cerai di Pengadilan Agama. Seharusnya istri pertamanya berhak memperoleh pembagian gaji, termasuk hak anak-anaknya,” tutur Yan.

Ketika menikahi istri kedua dan ketiga nya BC dan PZ, SZ menikahi keduanya secara siri di hari yang sama, yakni pada malam dan siang hari. Hanya, dari BC, SZ tidak dikaruniai anak. Sementara dengan istri ketiga PZ memiliki dua anak. Namun, belum lama pernikahan mereka, SZ kembali menceraikan PZ.

“Kemudian pernikahan dengan istri keempat (berinisial PL) mendapatkan satu anak. Tapi perkawinan tersebut tidak berlangsung lama karena SZ menalak secara sepihak istri keempatnya,” jelasnya.

Sementara itu, istri kelima, yakni BA, dinikahi secara agama oleh SZ dengan mengakui bahwa dia telah menceraikan semua istrinya. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua anak.

“Namun SZ kembali menceraikan BA, sehingga saat ini BA bekerja di Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya,” ujarnya.

Setelah bercerai dengan BA, SZ menikah lagi dengan GA, dan tinggal di rumah dinasnya bersama istri pertama. Pada Maret 2021, SZ lagi-lagi bercerai dan dia menjatuhkan talak kepada GA tidak secara langsung, tapi melalui bibi istrinya.

SZ juga tinggal serumah dengan HM yang merupakan calon istri ketujuh, tapi hingga kini belum menikah. Alih-alih menikahi HM, SZ justru menikah dengan perempuan lain, berinisial WD, asal Lombok Tengah. Dia menjadi istri ketujuh.

 

 

Sumber Artikle:

https://news.detik.com/berita/d-5717272/ancaman-pecat-menanti-pns-kejaksaan-yang-nikah-7-kali/2